Tuesday, April 5, 2016

Puisi "Lelah Bermimpi"

"Lelah Bermimpi"



Tiada satupun bintang berkedip
Melambaikan senyum kecilnya untukku
Tak, tiada pernah
Bukan rasa menyerah
Bukan terputus asa

Ataukah memang ada...
Melainkan hatiku telah membeku setengahnya
Jua mata yang mungkin membuta
Kematian sebagian rasa
Tiada kuasa merasa

Siapakah...
Di manakah..
Tak, mungkin selalu tetap tak..
Hanyalah sebatas ceritera penghibur lara

Ironi di atas ironi
Muak bersama benci
Lelah di dalam duka
Sedih membuat air mata

Sayap-sayap yang patah berhamburan
Bersama angin dingin yang terbawa hujan
Membelai jiwa yang meraung lantang

Akankah datang sang candra malam
Walau langit hitam penuh murka
Akankah datang kupu kecil nan indah
Hanyalah kelelawar berpesta ria

Semut merah takkan menjadi gajah
Walau berekor dan berkaki besar
Tiada yang mampu menyadari
Arti dari sebagian hidup yang nyata

Andai belalang melihat hati sang elang
Tak akan...
Nyata bukan mimpi melainkan tetaplah nyata
Walau hatinya memang penuh debu usang

Memuja mimpi pula membencinya
Khayalan bualan seakan abadi
Merasa lelah dalam kesunyian

Puisi "Lelah Menanti"

"Lelah Menanti"



Lama benar ku tatap rembulan
Namun, mengacuhkan ia akan hadirku
Pula sang bintang yang berhias
Indah tak terdusta akan hati

Beku otak terhenti nadi
Menikam yang kumiliki dengan lembut
Melemahlah darah mengalir

Tersisip di telinga sebatang rokok
Sedang yang lain melekat di mulut
Menemaniku dalam gelisah kini
Asap berlalu lalang dalam tubuhku
Hilir mudik bak purnama mencari sinar yang hilang
Memanah jantung yang runtuh
Bukan kepalang gelisah mengadu

Harimau lapar tak ku sua
Namun, aumannya memekak di telinga
Malam suram hitam kelam
Mungkin bersama hingga melambai mimpi

Ku tebas tuntas selembut kapas
Ku tebang garang oleh tajam pedang
Lama terlelah hati akan penantian
Kan tercair beku hatimu oleh pembuktian

Tinta ini tak lagi menghitam
Yang mengalir hanya merah putih
Merah darah yang mengukir untukmu
Putih kertas bak harapan dariku



Yuuk, Baca juga puisi mencari cinta

Puisi "Mencari Cinta"

"Mencari Cinta"



Nian lama aku mencari cinta
Akankah ku temukan ratu hatiku
Imajinasi yang selalu terbayang
Lelahku akan bermetamorfosa
Yakinku tak akan terganti

Awan hitam akan menangis
Nira meleleh membasahi rongga
Jiwaku kini terbantai sadis
Anganku terpana, terpaku dan menganga

Nangka menguning tandalah masak
Irisan senyum menggoda daku
Yang ku rasa tiada lain hanya sesak
Asa yang terpacu kini membeku
Tentang bayang-bayang gelap yang menyapa
Ingin ku rasa, ku hapus dan ku rindu



(inspirasi dari nama seseorang. "Naily Anjaniyati" )

Puisi "Mencari Kebahagiaan Sejati"

 "Mencari Kebahagiaan Sejati"



Telusuri hutan belantara
Taklukkan raja rimba
Raja dari segala fauna
Satwa liar nan nakal

Hangatkan salju terdingin
Bekukan cahaya surya
Daki puncak tinggi menjulang
Bersua terjal bukit berduri

Hadang gelombang samudera
Terjang badai pasifik raya
Cepat gerak mengancam
Keras ganas nan menghancurkan

Kebalkan raga di dahan liar
Tercengkeram akar laksana ular
Taring serigala ancam jiwa
Sirnakan asa cita di dada

Cakar sang raja goreskan luka
Dera nyali berganda
Uji nyawa berantai
Memicu nyali memacu nadi

Bersila di gua murka
Bertapa sua marabahaya
Terpaan hawa berbisa
Lengkapi rintangan menawan

Selama nyawa bersemayam
Di raga penuh derita
Tak akan jera berkelana
untuk cari kebahagiaan sejati

Puisi "Mengingatkan orang lain jika kita sedang ultah"

"Mengingatkan tentang ultah"



Burung-burung berkokok nyaring
Ayam jantan berkicau merdu
Angin menari lemah gemulai
Pepohonan bersiul indahnya

Gelisah tiada tara
Was was bersama cemas
Menanti datangnya hari itu
Hari yang mereka lupakan

Biarkan aku yang akan mengenang
Memang untukkulah hari itu
Tak akan aku peduli yang lain

Tak ada pesta meriah
Jua gemerlap canda tawa
Tak ada jualah kemewahan
Cukup kesederhanaan yang terjadi

Melihat dunia dengan terpejam
Menangis dalam senyuman
Melihat dunia dengan tangisan
Tertawalah bahagia yang lain

Ku hentakkan air mata kala itu
Hingga merasakan telah cukup lama
Dan kala waktu menatapku dalam sunyi
Sebingkai kata terngiang

"Lupakah kau akan aku
Yang tak akan pernah melupakan kau dalam hidupmu
Dirikulah saksi bisu dan buta
Namun, bisalah aku melihat dan bicara

Harapanmu yang selalu bersinar
Kan ku hiasi dengan semerbak mawar
Ingatlah aku, ahai kawan karibku
Dan tegarlah hadapi dunia semenjak kau menangis kala itu"

Cukuplah telah lama ku lalui
Lembar demi lembaran hari
Jua telah ku tahu separuh dari rasa
Malu, murka, duka, bahagia

Titik kecil yang terjatuh dari langit
Menetesi dinding hatiku
Mengalirkan air mata ragam makna
Yang membasahi bumi tempatku berpijak

Mata air dari air mata
Bergulir dan mengalir
Dari mata ke bibir
Bermuara di jiwa

Telah ku pijak bumi ini cukup lama
Ku rakit mimpi mengukir cita
Kawan-kawan yang telah berlari
Menatap haru akan yang menunggu

Mimpi dari jemari terhimpun
Di ruang ataupun di lapang
Kadang menggertakku kini
Dan ucapkan perlahan penuh kelembutan

Masihlah ada penuh harapan dariku
Kelana yang selalu terjalani
Membuka mata sebelum menutup mata
Memetik bahagia di ujung kehidupan ini

Puisi "Murka dan Rindu"

"Murka dan Rindu"



Telah ku hapus sebagian ingatan
Akan berganti lembaran baru
Dalam setiap jejak di tanah
Tak akan hanya tersisa bayang kecilmu
Ku tembus mentari mengitari angkasa
Tak berharap akan kembali ke bumi

Belenggu rantai di tangan
Telah terlepas oleh amarahku
Kaki terpasung akan merdeka
Jua leher terjerat rasa setia
Akan tegar menantang samudera

Sepasang mata hilir mudik
Datang dan melayang bak angin menari
Tak akan tertatappun darinya
Hanya untuk lepaskan matamu dari khayal

Kala cinta menggodaku
Ku tendang ia beserta rajawali
Kala rindu menyeruak menyakiti
Ku hujamkan belati ke punggungnya
Kala murka membahana perkasa
Ku berikan ia semegah singgasana

Taring yang tertidur bangkit kembali
Harapan yang menggelora perlahan mati
Lelah yang terasa kian memberontak
Murka meraja jiwa raga
Kecewa akan terkubur waktu
Merancang lembar putih bersih

Berkelana menelusuri bumi
Untuk Mencari pengisi hati
Namun, kaki mati berhenti
Terkapar ku di puncak bukit
Diterpa badai terbangun dari mimpi

Resah ku melihat nyata
Melihat purnama setengah mata
Duri kecil tertanam di jemari

Puisi "Nama yang Indah"

"Nama yang indah"



Nama kecil yang menawan
Akan tersimpan dalam sukma
Indah selalu dan terbingkai
Lama menghiasi dinding hati
Yang tersenyum setiap hari

Awan putih sejukkan mata
Namun, ku tunggu bintang bertaburan
Jauh, akan ku pandang tinggi

Anganku terbawa angin ke angkasa
Nian lama, indah terasa kian
Ingin ku tak kembali dari mimpi

Yang merakit kata bukanlah pujangga
Akankah kau memahaminya
Tentang nama yang di pinta dari kawan tercinta
Inilah yang terlahir dari jemari




(puisi permintaan teman. Inspirasi dari nama "Naily Anjaniyati" )

Puisi "Nasihat"

"Nasihat"




Tiadalah tahu di mana ujung langkah
Pulalah mata akan jauh memandang
Dan detak-detak jantung yang berjalan
Pertanda nyawa masihlah tersisa
Namun, niscaya akan terlempar daripadanya
Walau ingin ataupun tak
Niscaya tetaplah tak tertawar

Terbuailah daku di hamparan salju
Pandang terpaku, raga pun dingin dan kaku
Walau tiada api, dikaupun datang jua
"Bawalah selimut ini, lekas pergi"
Dikau berlari, sedang daku kian terbenam

Sebagian dari mereka bersenda gurau
Bermain dan dipermainkan tentang rasa
Tiada sadarkah rasa itu akan menghilang
Namun, tak apalah...
Biarkan mereka merasa, mendengar dan mengerti
Karenalah mereka tak peduli akan orang bicara
Bukankah mereka ingin merasa
Walau itu akan sia-sia

Biarlah air mata lembut akan mencair
Pula duka lara kala tiada terbendung
Walau tak mampu ku hapuskan
Namun, ku bawa kanvas yang akan melukis
Air mata awal kebangkitan

Sebagian manusia ialah berdusta berkhianat
Pernahkah dari mereka mendengar dan melihat
Hargai orang lain jika dikau ingin dihargai
Pula air susu dibalas air tuba
Mengapa...
Bagaimana pula akan hal itu

Tatkala mereka hanyalah bicara sarat hampa
Tidaklah dari mereka menepati, pula dari hati
Sungguh, mereka hanya akan menebarkan kebencian
Rantai yang terangkai tiada mudah terurai
Sungguh, ketulusan tak akan terhalang oleh pengkhianatan
Melainkan terjumpai balasan yang indah
Namun, tak semua dari mereka akan mendapatkan itu

Ku lihat dikau berpijak di bumi berguncang
Kedua sisi mata tiada terlepas dari gunung dan lautan
Sedang di langit berjajar bulan bintang
Terbuailah dikau oleh canda khayal
Karena hatimu telah menggapai ujung pelangi
Akan tetapi, dikau terlupa akan pusat arah mata angin
Dan hendaklah kau tahu
Di mana arah itu dan apa yang dikau cari

Sebagian anak manusia menjunjung egoisme
Bagaimana orang akan merasa dekat kala berkhianat
Mereka amat ingin dihargai dicintai dipuji
Namun, mereka meniadakan akal alami
Biarlah dunia dipenuhi ironi jua misteri

Puisi "Penantian Yang Terabaikan"

"Penantian Yang Terabaikan"



Kebahagiaan yang ku rasakan
Tak kau rasakan bukan
Kesedihan yang ku rasakan
Jua tak kau tahu kan
Karena kau tak mampu dengan semua itu
Dan biarlah aku menanti dengan ragaku yg bergetar

Tak ingin ku cintai kau
Lebih dari ku cinta Tuhan
Tapi gejolak manusiawi yang telah di beri oleh Tuhan
Tak akan pernah mati
Sampai takdir menjemput untuk kepastian

Antara jiwaku dan dirimu
Di dalam terik ataupun hangatnya malam
Antara terbakar jiwaku dan indahnya senyummu
Pertanda untukmu dariku
Agar kau tahu
Jika ku teramat menyayangimu

Hingga ku biarkan kau...
Menatap rembulan tersenyum kala hujan
Walau tak ku lihat sedikitpun cahaya sang
candra

Ku biarkan dirimu sebebas merpati terbang
Namun, tak kau tahu jua tanda-tanda kecil itu
Sekali ludahku mengalir
Tak akan pernah kembali
Jua tatapan pertama
yang tak ingin ku menutup mata lagi

Pun saat ku bertekad, takkan pernah ku mundur
Hingga kau tahu, jika ku masih hidup dan tetap ....

Biarkan ku jalani hidupku sekedip mata
Hingga Tuhan tentukan yang pasti
Antara aku, kau dan rasa ini

Dan tetaplah dirimu melangkah sejauh anak panah
Tinggalkanku dengan bahagiamu
Sampai langkahmu terhenti
Dan bertemu denganku lagi di ujung langkah
Karena ku telah menanti sebelum kau berlari

Jangan pernah benci, takut dan kecewa
Tuhan lebih tahu dari aku dan kau
Tersenyumlah atas karunia Tuhan
Dan nikmati waktu waktu indahmu
Sebelum bersua dengan yang tak prnah kau lihat lagi

Puisi "Perpisahan Lama Tanpa Kata"

 "Perpisahan Lama Tanpa Kata"



Di taman hijau tanpa noda
Kakaktua hinggap dan berkicau
Kumbang kecil mengepakkan sayap
Kupu kupu melambaikan keindahannya
Namun, tak ku rasa hadir mereka
Yang tertuju hanya hampa di ujung pandang

Di tengah terpaan hembus angin
Sejuk, dingin, indah, riang
Lembut pasir tergenggam
Ombak kecil hancurkan karang
Lenyaplah bahagia di mata
Menepuk bahuku rindu menggelora

Rintik hujan menghantam daun
Dingin melenyapkan kehangatan
Satwa bersayap terlelap di sarang
Meraung bambu gemetar tubuh
Kabur mataku akan kenangan
Tak brdaya ku tatap bingkai wajahmu

Bertebaran debu pedihkan mata
Tertangkap manusia berlalu lalang
Kering kerontang ladang membentang
Ku rasakan derita dan kecewa
Perpisahan lama tanpa kata

Puisi "Perpisahan"

"Perpisahan (ingin kembali)"


Entah mengapa kau pergi
Nyawaku seakan tak ingin merelakanmu
Nyanyian kecil untuk sebuah kenangan
Yang ku bisa, hanya melantunkannya ringan

Seperti mutiara kau datang dalam hidupku
Udara memeluk dengan penuh kehangatan
Lingkaran waktu seolah kau hentikan
Inginkan kita berdua untuk tetap bersama

Sungguh, ku ingin kita tetap berlayar
Tapi, hidup ini bagaikan gelombang lautan
Yang ku temukan kini hanya keping-keping perahu
Ombak memang telah mengamuk

Wahai, kekasih yang telah menghilang
Andai kau dengar rintihan hatiku
Tentulah dirimu akan bermuram durja
Ingn kembali merajut cinta yang terhempaskan ombak



(Puisi yang terinspirasi dari nama seseorang. "Enny Sulistyowati" )

Puisi "Rasa Yang Tulus"

"Rasa Tulus Yang Terpendam"



Mungkin, ada hal yang harus kamu tahu
Kau tak berhak untuk tahu
Jikalau ku pendam perasaan ini
Aku tak akan pernah menjagamu
Dengan mata, tangan ataupun yang lain

Mungkin hati ini akan menyelimutimu
Dalam setiap titik air mata
Karena ku datang dan merasakan kesedihan
Dari hatimu oleh hatiku
Meski kebahagiaanmu tertumpah untuk orang lain

Puisi "Sahabat"

"Rindu"



Untuk kawan dalam laju masa
Lambaikan senyummu untuk jiwaku
Via kecil untaian kata
Ingin ku tuang ungkapan kalbu

Hati bahagia tak bual
Arus derita bukan khayal
Indah jemari yang terjabat
Dari mengiba hingga tersayat

Alu patah lesung tak hilang
Ragu resah terpancung melayang
Oleh baskara tersinari dunia
Hari yang terjejak tak akan terlupa





 (inspirasi dari nama "Ulvi Haidaroh" )

Puisi "Rindu"

"Rindu"



Rintik hujan yang menemaniku
Di kesunyian malam tiada gemerlap bintang
Sang candra yang termenung sedih
Melihatku akan terbaring

Mata dengan mata yang terbayang
Paras itu terlihatlah indah di malam ini
Dalam khayal tiada terhentikan
Ingin ku tatap sekali lagi dengan tulus

Angin yang menyapu debu-debu
Menyelimuti tanaman yang telah terlelap
Tak lama ia datang kepadaku
Dan ku titipkan senyuman ini untuk dirimu

Janganlah terlena dirimu
Akan janji mimpi yang mnggodamu
Hadapilah nyata kini di depanmu

Untuk dirimu yang masih ku rindu
Dengarlah bisikan kecil bersenandung
Ku rindukan dirimu untuk esok yang gemerlap
Dan tersenyumlah di sisa malam ini

Puisi "Selalu Mengingatmu"

 "Selalu Mengingatmu"



Ku tahu, ku tak di hatimu
Tapi, izinkan aku untuk selalu mengingatmu
Ku tahu, ku bukan pilihan hatimu
Tapi, izinkan aku untuk selalu mengenangmu

Mengingat saat kali pertama kau datang
Mengingat saat kau tersenyum
Mengenang kala kau hancurkan hatiku
Mengenang kala kau pergi
Meninggalkan sejuta luka di hati

Biarkan pikiranku melayang terbang
Mengingat wajahmu dalam angan
Khayalan di setiap malam
Dingin, sepi nan mencekam

Biarkan jarum tajam nan runcing
Menggoreskan luka di kulitku
Mengukir dua huruf indah
Yang selalu buatku tersenyum

Di setiap malam kau selalu hadir
Meski hanya dalam mimpi
Mimpi pemacu spirit
Agar ku bangkit dari keterpurukan
Walau kau tak pernah tahu

Selama nyawa masih bersemayam
Di raga yang tegak berdiri
Selama itu pula ku akan mengingatmu
Selalu mengingatmu

Ketika janur kuning telah melengkung
Gaun pengantin hiasi ragamu
Kala kau tersenyum bahagia
Saat itulah ku akan berhenti
Dan menutup semua ingatan tentangmu

Ku tahu, kau tak butuh pengorbananku
Ku tahu, kau tak peduli semua itu
Semua itu hanya kemauanku
Agar ku tak lupa padamu
Walau tak sedetikpun kau ingat aku
Biarlah ku terima semua itu



(Keinginan untuk tetap mengingat seseorang walaupun cinta bertepuk sebelah tangan. Ini adalah puisi awal sebelum lahirnya puisi yang lain. Puisi yang paling berkesan)

Puisi "Selamat Tinggal, Kasih"

"Selamat Tinggal, Kasih"


Terlumuri hidupku dengan sesal
Andaikan waktu ramah dan menatap indah
Mungkin dua merpati akan terbang bersama
Tangan terjabat erat
Dan tebarkan iri di hati yang lain

Namun, tak pernah ingin ku maki Tuhan
Sang Pencipta, Maha Perkasa jua Maha Pencabut nyawa
Biarkanlah aku yang akan berlutut dalam darah
Agar tak terhirau akan rayuan menggoda

Terbuta mataku akan kehidupan ini
Tapi, tak pernah terbuta oleh pancaran matamu
Terbunuh perasaanku
Dan tak berdayalah dalam kelemahan
Namun, tak akan mati hatiku untuk merasakan

Haruskah ku ragukan tulus setia
Dari dirimu yang menatap dengan indah mimpi
Dungulah aku jika menyelami lautan
Yang tak pernah mengering oleh harapan
Jua hadir mereka di kala senja
Tak pernah mampu ku lukis kata

Ingin ku bahagia di atas titian
Harapku jua tak dikau merana tanpaku
Kala macam jalan di depan mata
Tempuhlah dengan senyum iringan dari ku

Jangan kau jatuhkan durja di bumi
Akan memudar mutiara terindahmu
Air kesedihanmu yang tergenang kini
Aan ku hapus dengan air mataku

Ahai, kekasih terindah di drama hidupku
Yang telah ku sua dalam kelana
Tutuplah matamu saat mentari terbenam
Dan ku akan menghilang tatkala sunyi malam
Semogalah bahagia kau dalam belaian
Hingga tersambut pagi tanpa hadirku

Puisi "Suara Hati"

 "Suara Hati"



Hati tak bersambut dengan hati
Mata mengabaikan pandangan
Harapan melayang oleh angin
Tertawa bersama awan
Hinggap di apollo amrik
Dan bermuara di angkasa

Ingin ku rasakan kepedihan ini
Walau di akhir cerita
Belumlah tentu kau tersenyum bersamaku
Ingin ku jalani hidup dengan kesedihan kini
Meski bisalah dari semua akan pnyesalan yang ada

Ku nantikan saat di mana
Kan ku tatap mata dan parasmu
Walau dalam kegalauan di setiap petang datang menjelang

Di mana gemerlap bintang
Tatkala langit muram dan petir menggeliat
Kelucuan hadir ketika aku masih bisa tersenyum
Dan menertawakan diriku dalam hati
Walau kesunyian mengelilingi
Waktu berdetak, jantungku berdetik

Mataku kabur menatap depan samar nan misteri
Kian gelisah, kian cemas, kian takut nian
Jalan sunyi berair
Terinjak roda perlahan
Malam yang dingin
Rintik hujan gemericik
Angin membekap
Cahaya lampu berjajar
Gemetarlah jemari di saku yang sempit
Mulut bersenandung
Hijau di jalan tertangkap gelap
Perjalanan untuk mencari kenangan

Dirinya tertidur, melupakan semua
Biarkan kenangan kecil
Tatapan tulus
Senyuman indah
Dan kehancuran yang selalu terbayang

"Lupakan, lupakan bintang kecilnya
Bagaikan melilit sisa harapan
Dan mencoba meracuni hati
Melawanlah wahai dirimu...
Tegakah melihat hatimu kian meradang
Tentang dirinya
Apa ada yang tertinggal hingga kau tak bisa bernafas
Sedungukah dirimu yang tak mampu berfikir
Ataukah telah buta matamu hingga tak kau lihat kenyataan"

Terngiang di telinga
Bisikan-bisikan jiwaku yang merana
Kadang terlupa, kadang menyapa
Cerita usang kini asing

Tertuang di lembar hidup sebuah kisah
Tertuai kecewa rasa di hati
Setipis kulit sutra
Tulang belulang terbungkus aliran darah yang terpancar
Menjadi basahlah kekecewaan
Satu tanya yang masih belum terjawab di akhir drama
Akankah mampu membuka mata sebelum menutup mata

Nyata di alam mimpi
Semu di alam nyata
Semerbak seribu serbuk menyerbu hidup
Kemana kan kau bawa seberkas sinar
Indah dan memancar
Dari mata yang berbinar

Andaikan datang hari itu
Hari di mana kau akan mengerti
Hari di mana akan terbuktikan
Yang kini tergenggam telah terlepas
Yang ada pun hilang melayang terbang

Setiap tetes air mata
Mungkin akan menjadi butiran mutiara
Yang telah lama terpendam
Tapi, masihlah terasa luka nyata dalam hati
Karena dirimu masih terlelap
Terbuai dalam lautan kasih sayang

Ingin ku buktikan
Mungkin aku bersalah mengharapkanmu
Namun, dengan semua itu
Mungkin tak akan ada yang kecewa

Andaikan sedikit dari mata yang terbuka
Walau hanya sekejap bintang berkedip
Tentu cukuplah bagiku bahagia
Meski itu bukan yang terbaik

Tak ada jua rasa yang...
Mungkin bermuara di awan
Hinggap di cakar sang elang
Karena ku ingin dirimu mengerti
Walau tak sekarang, biarkan saja mungkin nanti

Ku coba untuk tetap tegar bertahan
Menggenggam luka tanpa ada
Satupun bintang yang melambaikan senyumannya
Kepadaku di malam ini

Aku harap kau akan tahu
Arti dari semua yang terjadi
Karena untuk kini
Aku masih belum bisa beranjak
Dan melepaskan semua jeratan
Belum mampu ku buktikan
Dan kesempatan itu pun belum datang

Andaikan ada sedikit titik menuju hatimu
Akan ku datang dengan yang ku bisa
Secepat setepat anak panah melesat

Seakan tak mungkin terjadi
Tapi, yakinlah kita akan berjumpa
Walau kau muak, walau kau benci
Tapi, mungkin benar terjadi dan ku akan datang
Sungguh menyesakkan dan penuh luka
Jua tentang yang berkeras hati dan tak mau bicara

Rindu yang bertabur di sepanjang malam
Melepas semua keringat di dahi
Memutuskan aliran darah di hati
Tak ada yang banyak daripada sedikit
Tak ada yang berarti daripada semua ini
Bukan jua banyak kata yang menguap
Melainkan inti lah yang terbaik

Mungkin satu daripada yang belum pernah kau mengerti
Pun diriku yang melayang
Meliuk-liuk bersama tornado mengamuk
Gemetar dihantui satu yang bermakna

Tapi, biarkan kini seperti yang seharusnya terjadi
Karena bisa berubah yang akan datang
Bisalah tak sama dengan semua harapan

Jika semua memang sudah...
Biarlah terlepas dari hidupku
Belenggu rindu ini
Cinta yang tersakiti
Dan di sudut ruang kecil mencari yang sepertimu
Walau kau mungkin lebih baik
Biarkan dia menjadi lebih baik dengan ketulusan cinta
Dan harapanku untuk berlari
Meninggalkan lalu yang kelam
Penuh rasa, penuh derita

Banyak jalan membentang di atas bumi
Dan mungkin ini yang terbaik
Aku harap tak ingin datang
Tapi, kita akan bertemu di suatu penjuru
Kala kau bersama dengan yang lain
Dan mungkin tak terpisah lagi
Dengan cinta yang tertanam kuat ibarat kawat
Semakin menambah luka hingga
Aku tak mampu lagi untuk menatap rembulan

Terlilit dalam semu angan
Merana dalam kepedihan
Seakan hidupku bagai mimpi
Yang tak pernah terjadi
Hanyalah setetes madu di bukit serbuk hitam
Sekejap bahagia dalam derita yang lama

Kala wajah tak menawan
Bersinar terang lagi indah
Di tengah dingin malam yang memeluk
Tak ada pandangan padanya
Pun kemauan untuk menatap

Baling-baling di dinding
Sejajar bambu runcing
Ujung matanya akan menghunus urat nadi
Dan percikan dari darah yang menetes deras melukiskan pelangi

The bird is flying low
The fish is swimming slow
Looking for while you were said
"Who will be the best?"
I don't care about it

Seakan takut menjalani waktu
Seakan cemas melihat waktu berjalan
Seiring gundah di hati yang menanti
Akankah sia-sia semua ini dengan bungkam
Dan kala hati beradu kata
"Ingin mengejar apa yang belum pernah ku dapatkan
Dan yakin kan merasakannya".

Namun, dari suatu penjuru
"Lupakan, cukup sudah bagimu terluka
Dan bukankah masih ada banyak bintang yang bersinar di malam hari".
Kian hebat beradu, kian sakit terasa
Dan saat pilihan itu telah datang
Kembali lagi pilihan yang lain
Sungguh bimbang dalam gelombang rasa.

Mungkin tak pernah ada benci
Meski semua itu di depan mata
Meruntuhkan sebagian yang kumiliki
Mungkin kan selalu ada cinta
Walau benteng itu takkan mampu ku... taklukkan dengan semua yang terjadi
Ke mana kapal kan berlayar
Tatkala nahkoda terkapar?

Puisi "Tak Sekali Tak, Tetaplah...."

"Tak Sekali Tak, Tetaplah..."


Pernahkah kau lihat tubuhku bergetar
Tatkala ku rasa hal yang indah
Tak, sekali tak tetaplah...
Tiada benar untukku

Akankah kau kira jua jantungku berdebar
Tatkala ku lihat anggun wajahmu
Tak, sekali tak tetaplah...
Tiada ku rasakan apapun

Mata ini akan selalu berpaling
Ia tak berkaca dan tak bersinar
Jua tiada pernah terjamah halilintar

Tak lama pula ia menatap
Hanya mencari kenangan kecil darimu
Untuk membakar semua masa lalu
Hingga kau tuangkan setetes air mataku
Untuk redupkan bara api yang menggelora
Dan akan mengalir air mata yang terakhir
Biarkan angin melebur untuk menuju samudera
Yang tiada pernah mengering

Tak pula membutuhkan tatapan kecil yang terbalas
Hingga terlengkapi pandangan..

Ketika seseorang berkata
"Itulah bunga untukmu"
Akankah kau membenciku
Menyayat lembar demi lembar
Melupakanku dengan hatimu
Terbangkan semua kenangan
Hanyutkan ukiran kata hingga...
Kembalilah lautan tinta terbentang

Ataukah akan merah wajah yang terbingkai secarik indah kain dan...
Kau taburkan bulan bintang yang bersanding
Laksana sepasang kekasih dalam singgasana nan megah

Jua mungkin semua akan berlalu dan tak menyadari
Jadikan semua itu terbengkalai bagai...
Gedung menjulang tersentuh tornado dan nuklir

Apakah kau hanya kan mendengar
Tatkala tak kau jumpai apapun dalam genggamanku

Kala angin malam membekap
Bersama pecahan-pecahan air hujan
Menusuk semua sendi tulangku
ku selimuti diriku dan...
Menjemput mimpi yang tersipu malu
Menunggu untuk bersama dirimu yang telah terlebih dahulu...
Melepas lelah dalam nyaman ataupun kerisauan

Mungkin tak pernah kau temukan banteng menggelepar
Terkapar dengan badan tercakar
Tak sedikit darah yang terpancar
Sungguh, ia telah bermandikan luka

Tahukah dirimu
Apa yang di inginkannya
Tak sekali tak tetaplah...

Ia tak inginkan air untuk membersihkan lukanya
Pula kain untuk menyerap darah merah
Ia tak butuh obat yang mungkin akan ringankan perih
Tak sekali tak tetaplah...

Di sisa nafas yang akan terhembus
Melainkan ia berharap akan kehadiran
Seorang anak manusia yang menemani hingga ia...
Tak merasakan detik-detik lain dan
Kembali kepada Sang Pencipta alam semesta

Dalam setiap auman nestapa yang meracuni jiwamu
Daun-daun dari setiap penjuru yang kau sua
Melambai penuh persahabatan dan
Berharap dirimu agar..
Meneteskan air matamu di atas punggungnya

Burung-burung berkicau tandalah ia
Meminta dirimu bicara dan
Akan mereka lempar kesedihanmu di antara sayap-sayap
Bersama lahar-lahar yang
Membasahi leher gunung nan tinggi

Angin berlari mengitari jiwamu hanya ingin
Dirimu memberikan nestapa yang kau rasakan
Tak sekali tak tetaplah..

Semua yang ku titipkan untukmu
Tak meredakan jiwamu yang gempar dalam kebingungan
Tak sekali tak tetaplah

Tatkala semua mata manusia yang menatap dirimu
Di antara lengah dan terjaga
Mataku datang dan mengantar jiwamu ke tempat di mana...
Dedaunan, burung-burung jua angin yang tenang akan
Menyambut dengan sarat kehangatan

Dengarlah kala mataku bicara
"Bukankah engkau tahu
Jika kita hanyalah hamba Allah
Yang Maha Pengasih jua Maha Penyayang
Tak dinamakan hidup jikalau
Kita tiada pernah diuji

Jualah biasa, suka duka akan menghampiri
Bukankah tak hanya dirimu yang merasakannya"
Tak sekali tak tetaplah...

Lepaskan seluruh air mata yang tertahan dan
Aku bersama kawan-kawanku tiada akan
Pergi hingga ragamu di sana
Beserta kawan-kawanmu menutup mata
Tiada lagi terbasah oleh kesedihan
Semoga Allah Yang Maha Berkehendak
Maha Memiliki semua ciptaan
Akan menjadikan kita semua termasuk
Golongan orang-orang yang sabar"

Ku dapati dirimu tengah tertawa
Bertaut dengan jiwa yang mungkin tak hampa
Tengah terpaku di ruang bahagia
Dan mataku mengetuk pintu di bawah gelombang hujan
Namun, tiada kau dengar seruan kecilku
Mataku pergi, kembali terpejam
Terpangku di ragaku yang terhimpit dalam puing-puing kesunyian
Tiada asa, damba yang menyapa
Dan singgah di gubuk hati yang
Tertancap papan nisan kerinduan akan masa lalu

Akankah dirimu bicara sedang...
Tak kau jumpai diriku di matamu
Tetapkah dirimu melepas kata kala
Mataku tiada mampu mendengar akan ucapmu
Tak sekali tak tetaplah...

Tetaplah dirimu mengalirkan tanya
Sungguh, mataku tiada akan membungkam hatimu
Walau dalam tulus teredam amarah dan
Kelembutan yang tersapu debu bersama tapak liar

Mataku mendengar getaran jiwamu
Melainkan mungkin kebencianmu yang bermahkota
Tak sekali tak tetaplah...

Mataku tiada terpisah dari jiwaku
Ialah yang menganyam titian untuk
Membawa hatiku bersua dengan jiwamu
Walau tiada mampu kau rasakan tatapan
Tak sekali tak tetaplah...

Tatkala seorang anak manusia berkata
"Di sanalah mata yang memandangmu"
Dengan tiada kau mengerti
Dan dalam kebingungan bak...
Anak tertinggal dari jejak sang induk
Sungguh, matamu telah terbuta akan gelak tawamu

Akankah tersirat yang tak mungkin tersurat darimu
"Inilah rayuan yang seperti orang lain lakukan"
Tak sekali tak tetaplah...
Tiada akan pernah ku lakukan
Bukankah tak cukup aku menyukai hal itu

"Apakah kau ingin namun malu"
Tak sekali tak tetaplah...
Bukankah tak ada perasaan untuk itu

Cukuplah bagimu untuk membaca mataku
Apakah ia berkaca
Pulakah ia bersinar
Tak sekali tak, tetaplah tak...

Puisi "Tak Akan Lagi Ku Kejar"

"Tak akan lagi ku kejar"


Ribuan kilometer telah ku tempuh
Ribuan bukit telah ku daki
Ribuan kali aku berlari
Ribuan kali aku mengejar
Ribuan kali pula aku terjatuh

Ku bangkit dan kembali berlari
Kembali aku terjatuh
Bangkit lagi
Dan kembali terjatuh

Hingga hatiku berbisik
"Kaulah lelaki
Ambil keputusan brilian
Terbaik dalam hidupmu"

Ku memang lemah
Tapi, mengapa Ku lemah hanya karena cinta
Sesuatu yang seharusnya menjadi anugerah
Anugerah terindah dalam hidup

Ku putuskan untuk berhenti
Beristirahat dari sebuah perjalanan
Perjalanan tiada ujungnya

Perjalanan menguras air mata
Perjalanan menghancurkan raga
Perjalanan menelan asa
Perjalanan berkorban segalanya

Akankah ku mampu
Akankah ku sanggup
Akankah ku bisa

Puisi "Tanya dari Yang Terluka"

"Tanya dari Yang Terluka"


Banyak bintang bertabur di langit
Jauh dan dekat, tiada beda untuk keduanya
Diam dalam keheningan malam
Membisu dalam pekatnya kesunyian

Sedang yang jauh mata mencari
Langkah kaki tiada terhenti
Di mana, mengapa, bagaimana?

Akankah membentang jalan yang luas
Untuk hati yang telah terjatuh
Tetap berlari dan selalu berlari
Namun, tiada hutan di mata
Tiada berjumpa keindahan ternanti

Manakala yang dekat datang bersua
Hanya akan berlalu

Sekilas tampak cermin yang retak
Bersandar di dinding sarat derita
Debu terbang sedikitlah yang melekat
Bak hati yang teriris belati rindu

Demi bumi yang kini menua
Demi waktu yang tiada terhenti
Sungguh, malam yang gelap seolah menebas asa
Hingga pergi nun jauh sendiri
Tak pernah...
Tak ada lagi mimpi

Gelak tawa hanyalah setetes madu
Senyum indah telah larut dalam secangkir air mata
Berlinang dan mengalir perlahan
Terasa lunglai sisi-sisi sendi
Lemah dan rapuh

Puisi "Tentang Ibu"

"Tentang Ibu"



Berjalan tegar di atas laut biru
Membawa asa baru bersandar di bahu
Kecupan kecil untuk sang ibu
Akan terhias hatiku dengan rindu

Membuaiku di malam tiada jemu
Lelah dan letih bercampur lesu
Kasih dan sayang bersatu padu
Walau kerasku bagaikan batu

Derita yang berkecamuk di jiwaku
Kau tebus tulus dengan mutiaramu
Kala ku terisak tersedu
Kau hapus luka dengan senyummu

Teringat kasih ibu sepanjang waktu
Tak akan memudar tak pula membeku
Ku genggam kini tombak bambu

Karena terbentang jalan berliku

Puisi "Ucapan Selamat di Rusia"

"Ucapan Selamat di Rusia"


Saat mentari telah terbit
Terbangun manja dari peraduan
Dan pancarkan sinarnya
Embun-embun sejuk bernyanyi
Untuk sambut hari yang cerah
Ku ucapkan "Dabroye Utra"

Kala sang surya mencapai puncak
Ciptakan terik menerpa raga
Keringat mengucur deras
Dari badan yang termakan lelah
Hingga mentari tak lagi bersinar
Dan kegelapan malam telah datang
Ku ucapkan "Dabro Dent"

Kala sang candra telah hadir
Bintang-bintang bertaburan
Kegelapan sirna akan cahaya
Terhapus keindahan sang rembulan

Kala lelah tiba di ujung
Goda sang indra penglihatan
Mimpi indah telah menanti
Untuk akhiri petualangan panjang

Kala ku tersenyum bahagia
Teringat sebuah senyuman
Senyuman indah nan menawan
Teramat manis lebih dari sekedar madu
Ku ucapkan "Spakoinoi Nochi"

Puisi "Ungkapan Kecil"

"Ungkapan Kecil"



Dingin angin malam
Menyapaku lembut dan mesra
Di bawah rerintikan hujan, kau cari kehangatan
Di dalam rerintihan jiwa, kau cari kebahagiaan

Jika dirimu tak merasa bersalah
Ku jalani hidupku dengan rasa lelah
jika kau tersenyum di bibir dan kalbu
Ku teteskan darah dan berharap untuk memilikimu

Setangkai berlian dari dalam lautan
Tumbuh di padang berpasir
Meleburkan sebagian daripada gersang
Sepasang mawar di atas bukit
Diantara putih dan hitam
Terlukis sebagian daripada indah

Tertiup angan oleh angin
Tipis sutra bersayap
Burung terbang menyambut penuh hangat terasa
Ahai, hancurlah sebagian daripada hidup

Bahagia menari bersama mentari hingga kuning menjingga
Tanpa sedikitpun penyesalan
Tiada sedetikpun penantian
Tersenyum di hari-hari yang keras
Menjadi diri, abaikan kicauan anjing keras kepala

Akankah bunga tak merekah
Tatkala datang musim mekar
Bintang di langit, tiada lagi bersinar
Tatkala daku bagai tanpa taring

Dalam hampa yang membahana
Jeritan menyerah kian memenuhi setiap sudut telinga

Sungguh, bintang itu telah pandai berhias dan bercermin
Haruslah ku mengerti
Tajam pandang mencabik hati yang tengah terluka
Kilauan sinar teramat menawan yang menyilaukan mata
Telah merusak sebagian ranting-ranting..

Semak belukar yang terbakar
Ku dengar murka api yang berkobar
Dalam air mata yang tak terurai
Hanya ku dapati serangkai rantai

Nafas yang bernaung di langit biru
Bulan bintang melihatku dan terharu
Ku tinggalkan bangkai permata di sini
Sedang kaki melangkah pergi dan tak kembali

Ketika tangan diantara terpangku dan merayap
Tiada beralih pandang akan merpati
Ingin ku cekik atau ku penggal leher nan mungil
Datanglah iba di hati dan ku biarkan terbang

Pohon tegap, tegak, tetaplah tegar
Ranting jatuh berdenting bagaikan jarum
Sedang dedaunan pun sama bergugur
Daku menatap dalam belas kasih
Walau ia tersenyum dalam perjuangan

Ketika dikau dalam api berkobar
Takutlah akan tubuhmu terbakar
Tak, tak ada sedikitpun air yang berlarian
Melainkan tiada datang hanya seorang
Terpadamlah api oleh air mata
Sehinggalah dikau jumpai debu-debu bertebaran

Kala terlihat cahaya rembulan
Seolah dikau mampu menggenggamnya
Sedang mereka mendapati sisa-sisa yang meredup
Melainkan daku mencoba berpaling
Tetap tertunduk, melihat tanah-tanah yang basah

Tatkala titik-titik kecil dalam bejana
Berteriak bersuara ingnkan bebas merdeka
Merekalah akan terbungkam
Diam tertegun oleh lada kehidupan

Dikau tengah memeluk malam mencekam
Dan tiada kau lihat bintang-bintang
Daku tiada akan memetik dan kepadamu memberikan
Tiada pula berucap tentang indahnya bulan
Melainkan dikau tak tenggelam dalam kesunyian
Lihatlah, ia tersenyum dalam jauh di matamu

Jangan, janganlah dikau mendekati yang bersila
Sedang dalam bayang orang memanglah berbeda
Sungguh, akal telah mencoba bertapa di gua nan sunyi
Ia tetaplah duduk, tiada bersandar dalam ketenangan
Bukan ia tak melihat pula merasa akan mereka
Melainkan ia selalu melayang bersama kedamaian hati
Tetaplah bagimu untuk tak mengerti
Karena daku bukan dikau, pula dia jua mereka
Dan tetaplah kehidupan dalam perbedaan

Puisi "Siluman berhati Besi"

"Siluman berhati Besi"



Baju rapi, celana rapi, dasi pun rapi
Kenyangkan perut dengan sepiring nasi
Baca koran, bersantai ditemani kopi
sedang anak istri melahap berlapis roti


Sepatu mengkilap, mobil mengkilat
Uang melimpah, Istana dihias mewah
Namun, mata tuli dari jeritan jeritan derita
Telinga buta akan luka menganga


Wahai, sang pendaki gunung harta..
Wahai, Sang penghuni istana mutiara...
dimanakah engkau ketika mereka menangis darah...


Tidak... engkau tak pernah menyapa
Tatkala mereka mencari butiran butiran nasi berserakan
Ketika mereka di belai sang surya
Engkau sedang terlena dan bermalas-malasan


Pernahkah kau dengar rintihan sekarat dari mereka
Perjuangan antara bertahan atau pulang selamanya
Sedang sanak keluarga pun kalang kabut
Ke mana???
Ke mana harus mencari kepingan-kepingan rupiah untuk biaya
Sedang untuk perut pun, terkadang 3 hari berisi udara hampa



Dengarkah engkau akan suara-suara pilu itu
Tidak... Matamu telah tertutup oleh kebisingan dunia
Lihatkah engkau akan kerasnya kehidupan itu
Tidak... Telingamu disilaukan indahnya permata

Pantun "Si Miskin"

"Si Miskin"


Seekor kera memakan rambutan
Burung kutilang memakan pepaya
Kami tertatih menenelusuri jalan
Menahan lapar yang menyiksa

Wanita cantik memakai kalung
Kalung yang indah mahal harganya
Lemparkan air kepada kami, bung
Untuk sekedar menumpas dahaga


Budi datang menghadap tuan

Sedangkan wati mengantar nyonya
Bukan harta yang kami inginkan

Melainkan hatimu merasa iba


Gajah pintar ada di lampumg
lampung itu wilayah sumatera
Lihatlah akan derita kami, bung
Agar kau tahu kerasnya dunia

Puisi "Suara yang teraniaya"

"Suara yang teraniaya"



Kau teriakkan "Kita Saudara"
Kau ucapkan "kita satu bangsa"
kau katakan "kita telah merdeka"
namun, semua hanya tipu belaka
membujuk dalam mimpi hampa


akan ke mana kau bawa raga kami
menjadi budak dari rasa tamak
akan ke mana kau bawa mimpi kami
mencair akan keserakahan yang busuk
Tak cukupkah kau miliki lautan intan?


Kehidupan disini hanya sekali
untuk mereka yang menenggak anggur kenikmatan
begitu pula untuk kami yang terpasung dalam keterbatasan


Melainkan kami seakan-akan berulang kali mati
terbantai oleh kerasnya badai impian
Datang, pergi, hilang lalu terlupa


Hati yang tercabik oleh kejamnya bayang-bayang
Kami jaga, kami bawa, Kami siram dengan air ketabahan
Tiada lupa pula menebar rasa tegar
mereka mengacuhkan dengan tawa yang hina
Seolah kehidupan ini akan kekal abadi