Tuesday, April 5, 2016

Puisi "Tak Sekali Tak, Tetaplah...."

"Tak Sekali Tak, Tetaplah..."


Pernahkah kau lihat tubuhku bergetar
Tatkala ku rasa hal yang indah
Tak, sekali tak tetaplah...
Tiada benar untukku

Akankah kau kira jua jantungku berdebar
Tatkala ku lihat anggun wajahmu
Tak, sekali tak tetaplah...
Tiada ku rasakan apapun

Mata ini akan selalu berpaling
Ia tak berkaca dan tak bersinar
Jua tiada pernah terjamah halilintar

Tak lama pula ia menatap
Hanya mencari kenangan kecil darimu
Untuk membakar semua masa lalu
Hingga kau tuangkan setetes air mataku
Untuk redupkan bara api yang menggelora
Dan akan mengalir air mata yang terakhir
Biarkan angin melebur untuk menuju samudera
Yang tiada pernah mengering

Tak pula membutuhkan tatapan kecil yang terbalas
Hingga terlengkapi pandangan..

Ketika seseorang berkata
"Itulah bunga untukmu"
Akankah kau membenciku
Menyayat lembar demi lembar
Melupakanku dengan hatimu
Terbangkan semua kenangan
Hanyutkan ukiran kata hingga...
Kembalilah lautan tinta terbentang

Ataukah akan merah wajah yang terbingkai secarik indah kain dan...
Kau taburkan bulan bintang yang bersanding
Laksana sepasang kekasih dalam singgasana nan megah

Jua mungkin semua akan berlalu dan tak menyadari
Jadikan semua itu terbengkalai bagai...
Gedung menjulang tersentuh tornado dan nuklir

Apakah kau hanya kan mendengar
Tatkala tak kau jumpai apapun dalam genggamanku

Kala angin malam membekap
Bersama pecahan-pecahan air hujan
Menusuk semua sendi tulangku
ku selimuti diriku dan...
Menjemput mimpi yang tersipu malu
Menunggu untuk bersama dirimu yang telah terlebih dahulu...
Melepas lelah dalam nyaman ataupun kerisauan

Mungkin tak pernah kau temukan banteng menggelepar
Terkapar dengan badan tercakar
Tak sedikit darah yang terpancar
Sungguh, ia telah bermandikan luka

Tahukah dirimu
Apa yang di inginkannya
Tak sekali tak tetaplah...

Ia tak inginkan air untuk membersihkan lukanya
Pula kain untuk menyerap darah merah
Ia tak butuh obat yang mungkin akan ringankan perih
Tak sekali tak tetaplah...

Di sisa nafas yang akan terhembus
Melainkan ia berharap akan kehadiran
Seorang anak manusia yang menemani hingga ia...
Tak merasakan detik-detik lain dan
Kembali kepada Sang Pencipta alam semesta

Dalam setiap auman nestapa yang meracuni jiwamu
Daun-daun dari setiap penjuru yang kau sua
Melambai penuh persahabatan dan
Berharap dirimu agar..
Meneteskan air matamu di atas punggungnya

Burung-burung berkicau tandalah ia
Meminta dirimu bicara dan
Akan mereka lempar kesedihanmu di antara sayap-sayap
Bersama lahar-lahar yang
Membasahi leher gunung nan tinggi

Angin berlari mengitari jiwamu hanya ingin
Dirimu memberikan nestapa yang kau rasakan
Tak sekali tak tetaplah..

Semua yang ku titipkan untukmu
Tak meredakan jiwamu yang gempar dalam kebingungan
Tak sekali tak tetaplah

Tatkala semua mata manusia yang menatap dirimu
Di antara lengah dan terjaga
Mataku datang dan mengantar jiwamu ke tempat di mana...
Dedaunan, burung-burung jua angin yang tenang akan
Menyambut dengan sarat kehangatan

Dengarlah kala mataku bicara
"Bukankah engkau tahu
Jika kita hanyalah hamba Allah
Yang Maha Pengasih jua Maha Penyayang
Tak dinamakan hidup jikalau
Kita tiada pernah diuji

Jualah biasa, suka duka akan menghampiri
Bukankah tak hanya dirimu yang merasakannya"
Tak sekali tak tetaplah...

Lepaskan seluruh air mata yang tertahan dan
Aku bersama kawan-kawanku tiada akan
Pergi hingga ragamu di sana
Beserta kawan-kawanmu menutup mata
Tiada lagi terbasah oleh kesedihan
Semoga Allah Yang Maha Berkehendak
Maha Memiliki semua ciptaan
Akan menjadikan kita semua termasuk
Golongan orang-orang yang sabar"

Ku dapati dirimu tengah tertawa
Bertaut dengan jiwa yang mungkin tak hampa
Tengah terpaku di ruang bahagia
Dan mataku mengetuk pintu di bawah gelombang hujan
Namun, tiada kau dengar seruan kecilku
Mataku pergi, kembali terpejam
Terpangku di ragaku yang terhimpit dalam puing-puing kesunyian
Tiada asa, damba yang menyapa
Dan singgah di gubuk hati yang
Tertancap papan nisan kerinduan akan masa lalu

Akankah dirimu bicara sedang...
Tak kau jumpai diriku di matamu
Tetapkah dirimu melepas kata kala
Mataku tiada mampu mendengar akan ucapmu
Tak sekali tak tetaplah...

Tetaplah dirimu mengalirkan tanya
Sungguh, mataku tiada akan membungkam hatimu
Walau dalam tulus teredam amarah dan
Kelembutan yang tersapu debu bersama tapak liar

Mataku mendengar getaran jiwamu
Melainkan mungkin kebencianmu yang bermahkota
Tak sekali tak tetaplah...

Mataku tiada terpisah dari jiwaku
Ialah yang menganyam titian untuk
Membawa hatiku bersua dengan jiwamu
Walau tiada mampu kau rasakan tatapan
Tak sekali tak tetaplah...

Tatkala seorang anak manusia berkata
"Di sanalah mata yang memandangmu"
Dengan tiada kau mengerti
Dan dalam kebingungan bak...
Anak tertinggal dari jejak sang induk
Sungguh, matamu telah terbuta akan gelak tawamu

Akankah tersirat yang tak mungkin tersurat darimu
"Inilah rayuan yang seperti orang lain lakukan"
Tak sekali tak tetaplah...
Tiada akan pernah ku lakukan
Bukankah tak cukup aku menyukai hal itu

"Apakah kau ingin namun malu"
Tak sekali tak tetaplah...
Bukankah tak ada perasaan untuk itu

Cukuplah bagimu untuk membaca mataku
Apakah ia berkaca
Pulakah ia bersinar
Tak sekali tak, tetaplah tak...

No comments:

Post a Comment