"Mengingatkan tentang ultah"
Burung-burung berkokok nyaring
Ayam jantan berkicau merdu
Angin menari lemah gemulai
Pepohonan bersiul indahnya
Gelisah tiada tara
Was was bersama cemas
Menanti datangnya hari itu
Hari yang mereka lupakan
Biarkan aku yang akan mengenang
Memang untukkulah hari itu
Tak akan aku peduli yang lain
Tak ada pesta meriah
Jua gemerlap canda tawa
Tak ada jualah kemewahan
Cukup kesederhanaan yang terjadi
Melihat dunia dengan terpejam
Menangis dalam senyuman
Melihat dunia dengan tangisan
Tertawalah bahagia yang lain
Ku hentakkan air mata kala itu
Hingga merasakan telah cukup lama
Dan kala waktu menatapku dalam sunyi
Sebingkai kata terngiang
"Lupakah kau akan aku
Yang tak akan pernah melupakan kau dalam hidupmu
Dirikulah saksi bisu dan buta
Namun, bisalah aku melihat dan bicara
Harapanmu yang selalu bersinar
Kan ku hiasi dengan semerbak mawar
Ingatlah aku, ahai kawan karibku
Dan tegarlah hadapi dunia semenjak kau menangis kala itu"
Cukuplah telah lama ku lalui
Lembar demi lembaran hari
Jua telah ku tahu separuh dari rasa
Malu, murka, duka, bahagia
Titik kecil yang terjatuh dari langit
Menetesi dinding hatiku
Mengalirkan air mata ragam makna
Yang membasahi bumi tempatku berpijak
Mata air dari air mata
Bergulir dan mengalir
Dari mata ke bibir
Bermuara di jiwa
Telah ku pijak bumi ini cukup lama
Ku rakit mimpi mengukir cita
Kawan-kawan yang telah berlari
Menatap haru akan yang menunggu
Mimpi dari jemari terhimpun
Di ruang ataupun di lapang
Kadang menggertakku kini
Dan ucapkan perlahan penuh kelembutan
Masihlah ada penuh harapan dariku
Kelana yang selalu terjalani
Membuka mata sebelum menutup mata
Memetik bahagia di ujung kehidupan ini
No comments:
Post a Comment