"Nasihat"
Tiadalah tahu di mana ujung langkah
Pulalah mata akan jauh memandang
Dan detak-detak jantung yang berjalan
Pertanda nyawa masihlah tersisa
Namun, niscaya akan terlempar daripadanya
Walau ingin ataupun tak
Niscaya tetaplah tak tertawar
Terbuailah daku di hamparan salju
Pandang terpaku, raga pun dingin dan kaku
Walau tiada api, dikaupun datang jua
"Bawalah selimut ini, lekas pergi"
Dikau berlari, sedang daku kian terbenam
Sebagian dari mereka bersenda gurau
Bermain dan dipermainkan tentang rasa
Tiada sadarkah rasa itu akan menghilang
Namun, tak apalah...
Biarkan mereka merasa, mendengar dan mengerti
Karenalah mereka tak peduli akan orang bicara
Bukankah mereka ingin merasa
Walau itu akan sia-sia
Biarlah air mata lembut akan mencair
Pula duka lara kala tiada terbendung
Walau tak mampu ku hapuskan
Namun, ku bawa kanvas yang akan melukis
Air mata awal kebangkitan
Sebagian manusia ialah berdusta berkhianat
Pernahkah dari mereka mendengar dan melihat
Hargai orang lain jika dikau ingin dihargai
Pula air susu dibalas air tuba
Mengapa...
Bagaimana pula akan hal itu
Tatkala mereka hanyalah bicara sarat hampa
Tidaklah dari mereka menepati, pula dari hati
Sungguh, mereka hanya akan menebarkan kebencian
Rantai yang terangkai tiada mudah terurai
Sungguh, ketulusan tak akan terhalang oleh pengkhianatan
Melainkan terjumpai balasan yang indah
Namun, tak semua dari mereka akan mendapatkan itu
Ku lihat dikau berpijak di bumi berguncang
Kedua sisi mata tiada terlepas dari gunung dan lautan
Sedang di langit berjajar bulan bintang
Terbuailah dikau oleh canda khayal
Karena hatimu telah menggapai ujung pelangi
Akan tetapi, dikau terlupa akan pusat arah mata angin
Dan hendaklah kau tahu
Di mana arah itu dan apa yang dikau cari
Sebagian anak manusia menjunjung egoisme
Bagaimana orang akan merasa dekat kala berkhianat
Mereka amat ingin dihargai dicintai dipuji
Namun, mereka meniadakan akal alami
Biarlah dunia dipenuhi ironi jua misteri
No comments:
Post a Comment