"Siluman berhati Besi"
Baju rapi, celana rapi, dasi pun rapi
Kenyangkan perut dengan sepiring nasi
Baca koran, bersantai ditemani kopi
sedang anak istri melahap berlapis roti
Sepatu mengkilap, mobil mengkilat
Uang melimpah, Istana dihias mewah
Namun, mata tuli dari jeritan jeritan derita
Telinga buta akan luka menganga
Wahai, sang pendaki gunung harta..
Wahai, Sang penghuni istana mutiara...
dimanakah engkau ketika mereka menangis darah...
Tidak... engkau tak pernah menyapa
Tatkala mereka mencari butiran butiran nasi berserakan
Ketika mereka di belai sang surya
Engkau sedang terlena dan bermalas-malasan
Pernahkah kau dengar rintihan sekarat dari mereka
Perjuangan antara bertahan atau pulang selamanya
Sedang sanak keluarga pun kalang kabut
Ke mana???
Ke mana harus mencari kepingan-kepingan rupiah untuk biaya
Sedang untuk perut pun, terkadang 3 hari berisi udara hampa
Dengarkah engkau akan suara-suara pilu itu
Tidak... Matamu telah tertutup oleh kebisingan dunia
Lihatkah engkau akan kerasnya kehidupan itu
Tidak... Telingamu disilaukan indahnya permata
No comments:
Post a Comment