"Khayalan Sang Perindu"
Terbaring ku di atas pelangi
Namun, hanya merah yang menemaniku
Semerah darah mengalir
Kala tertatih ku dalam langkah
Bersandar di dahan rimbun
Gugurlah dedaunan bersama gugur harapan
Lelah dengan kerinduan dalam hati
Mencoba untuk menahan sekuat benteng besi
Jua tersenyum tegar menjalani
Akan ku tunggu waktu yang terbaik
Berjumpa dengan kau lagi di perbatasan lelahku
Sorak sorai akan hiasi kala itu
Sedikit keheningan untuk lepasnya rindu
Kau tak harus ku miliki
Jua tak harus ku memaksa
Cukuplah rindu yang menaburi hati
Dan menyelimuti dalam gelisahku
Kan menjadi milikku tatkala sendiri
Hingga kau pinang lelaki dambamu
Tahulah kau kini tentang rasa
Yang meronta tak peduli siapa
Akankah kau kan mengerti
Dalam malam yang kering oleh mimpi
Dalam malam yang sunyi karena rindu
Akankah sang ratu telah menutup mata
Senandung kecil dengan mimik tak reka
Akan kau lihat hingga tak lagi tertatap olehmu
Angin yang membelai bersiul, berurai air mata
Meski senandung itu telah berakhir
Kau tunggukah drama itu
Dengan diam di mulut, takkan pernah diam hatimu bukan
Oh, indahnya rinduku dengan bungkammu
Itulah kau yang tak pernah berubah
Kan kian menawan dengan tanpa wajahmu
Ah, sungguhkah bicaraku ini
Ataukah ungkapan dari frustasi memuncak
Tak sekali tak tetaplah...
Pikirmu, sulit bagiku untuk melihat
Karena ku biarkan dahan-dahan menyapamu
Bersama jua kawan-kawanmu kini
Dan mungkin tak akan pernah ku runtuhkan berlin
Untuk sekedar berkedip, memandang indah matamu
Jua menanti di yang akan kau lalui
Karena ku ingin menahan rindu indah ini
Sampai kala itu datang menjemput
Dan membawa pada jumpa impianku
Tinggikah khayal di senja merah
Secerah wajahmu dalam himpunan
Riuh angin berdendang
Dan menyelami isi hati
No comments:
Post a Comment