Wednesday, April 6, 2016

Puisi "Cinta dan Benci"

"Cinta Dan Benci"



Nang nang yang telah terkenang
Rasa yang bertabur tanpa sang bintang
Di malam terbaring di atas pedang
Risau nian, murka kian nyata
Air mata kebencianku lah yang terasa
Membakar titik demi titik darah

Pergilah dirimu tak ibarat mentari
Berkelana mengitari namun kembali
"pergi", tak ada yang lain daripada itu
Dengarkah dirimu akan ucapku
Sekeras batu tak sekeras hati

Terjinak di ruang seluas pikirmu
Liar terhujam oleh sinarmu
Rasa itu masih lah bergejolak hebat
Ku harap kau akan besertaku
Bersama angin riang yang membelai
Tetaplah tatap mataku selembut senyummu

Sebagian dari jiwa yang termenung
Dan kematian yang terdamba kian dekat
Menjemputku dalam mimpi yang akan berakhir
Dirimulah kematianku
Akhir yang indah di dalam kisah

Sebagian darinya teramat murka
Dan kehidupan yang seolah kekal akan nyata dimata
Tak terbayang kau akan kembali
Dan perlahan kau goreskan tinta darah dalam hidupku
Yang kau berikan padaku di malam itu
Tak terhapus oleh benciku akan seribu maafmu

Ku tatap bintang kecil di dinding hatiku
Sekali tertawa sekali jua membara
Dan jiwaku seakan menjumpai jeruji
Yang kan runtuh kala ku hidup kembali

No comments:

Post a Comment