"Cinta Dan Benci"
Nang nang yang telah terkenang
Rasa yang bertabur tanpa sang bintang
Di malam terbaring di atas pedang
Risau nian, murka kian nyata
Air mata kebencianku lah yang terasa
Membakar titik demi titik darah
Pergilah dirimu tak ibarat mentari
Berkelana mengitari namun kembali
"pergi", tak ada yang lain daripada itu
Dengarkah dirimu akan ucapku
Sekeras batu tak sekeras hati
Terjinak di ruang seluas pikirmu
Liar terhujam oleh sinarmu
Rasa itu masih lah bergejolak hebat
Ku harap kau akan besertaku
Bersama angin riang yang membelai
Tetaplah tatap mataku selembut senyummu
Sebagian dari jiwa yang termenung
Dan kematian yang terdamba kian dekat
Menjemputku dalam mimpi yang akan berakhir
Dirimulah kematianku
Akhir yang indah di dalam kisah
Sebagian darinya teramat murka
Dan kehidupan yang seolah kekal akan nyata dimata
Tak terbayang kau akan kembali
Dan perlahan kau goreskan tinta darah dalam hidupku
Yang kau berikan padaku di malam itu
Tak terhapus oleh benciku akan seribu maafmu
Ku tatap bintang kecil di dinding hatiku
Sekali tertawa sekali jua membara
Dan jiwaku seakan menjumpai jeruji
Yang kan runtuh kala ku hidup kembali
No comments:
Post a Comment